JADWAL PERLOMBAAN GEBYAR MAULID (GEMA)
1434 H- 2013 M.
No Hari/Tanggal Waktu Jenis Lomba Level Tempat Jam Penanggung Jawab
1 Kamis, 07 Februari 2013 Malam Watching Movie Semua Santri Pendopo 21.30 – selesai Seluruh panitia
2 Jum’at, 08 Februari 2013 Siang Imathoh MTs Mushola 13.30 – 16.00 Imam Ja’far
Alfiyah MA Pendopo Husnul Mizan
Malam Baca Kitab MTs Musholla 21.30 – selesai Khozin
Baca Kitab MA Pendopo Rozi
3 Sabtu, 09 Februari 2013 Siang Quiz MTs Musholla 13.30 – 16.00 Erik
Jidal MA Pendopo Habibullah
Malam Imrithy MTs Musholla 21.30 – selesai Aziz-jazuli
Alfiyah MA Pendopo Husnul Mizan
4 Minggu, 10 Februari 2013 Siang Imrithy MTs Musholla 13.30 – 16.00 Aziz- Jazuli
Jidal MA Pendopo Habibullah
Malam Imathoh MTs Musholla 21.30 – selesai Imam Ja’far
Hasta Karya MTs & MA Depan Musholla Huda
Debate MA Pendopo Sofyan
5 Senin, 11 Februari 2013 Siang - MTs Musholla 13.30 – 16.00 Imam Ja’far
Debate MA Pendopo Sofyan
Malam Final Imrithy MTs Musholla 21.30 – selesai Aziz-Jazuli
Final Alfiyah MA Pendopo Husnul Mizan
6 Selasa, 12 februari 2013 Siang Final Quiz MTs Musholla 13.30 – 16.00 Erik
Final Debate MA Pendopo Sofyan
Malam Drama MA/MTs MTs
MA
Pendopo
21.30 – selesai Syihabudin
7 Rabo, 13 februari 2013 Siang Final Imathoh MTs Mushola 13.30 – 16.00 Erik
Final Jidal MA Pendopo Habibullah
Malam Drama MA/MTs MTs Pendopo 21.30 – selesai Syihabudin
MA
8 Kamis, 14 Februari 2013 Malam Banjari
MTs
MA Pendopo 21.30 – selesai Zaman
9 jum’at, 15 Februari 2013 malam closing semua santri pendopo 21.30– selesai seluruh panitia
* Jadwal sewaktu-waktu bisa berubah tergantung situasi dan kondisi
Gresik, 11 Januari 2013
Ketua Maulid
Agus Safaruddin
Umroh Keluarga Besar Mambaus Sholihin 2013
SORE MENJELANG MAGHRIB, Romo KH Masbuhin Faqih berjubah putih dan memakai imamah menuju muhsola Akbar, santri-santri putra langsung menata barisan shof dengan rapi, dan sebagian berdiri. Sholat maghrib sore ini (Senin, 11 Februari 2013) Romo Kyai yang jadi imam. Usai membaca wirid dan sholat rowatib, beliau duduk di depan para santri memberi nasehat, nasehat bagi seorang penuntut ilmu untuk mengerti posisi Abu al Jasad dan Abu ar Ruh, yang tak lain menanamkan rasa hormat pada seorang orangtua dan seorang guru yang telah mendidik ruh setiap muridnya. Isi nasehat beliau yang panjang lebar membahas adab seorang murid pada seorang gurunya disampaikan dengan bahasa arab yang fasih, suara yang tegas dan jelas membuat santri hidmat mendenngarnya. Malam itu juga, beliau minta izin dan pamit kepada semua santri. Karena keluarga besar pondok pesantren Mambaus Sholihin akan berangkat ke kota suci Makkah untuk melaksanakan Umroh. Keberangkatan Umroh KH Masbuhin Faqih dan keluarga tak lain untuk meneruskan niat dan keinginan Bu Nyai Ainiyah saat beliau masih sehat sebelum masuk rumah sakit Petrokimia Gresik pada 14 Januari 2013. Rencana suci menuju kota suci itu belum kesampaian, sehingga Bu Nyai sowan pada ilahi robbi pada 20 Januari 2013. Rencana mulia itu besok tepatnya hari Rabu 13 Februari 2013 pukul 03 dini hari akan dilaksanakan oleh keluarga berangkat dari Juanda menuju Makkah al Mukarromah.
Umroh selama 15 hari di kota suci Makkah, dan diteruskan oleh Pengasuh bersama Agus Majdudin menuju Tarim Yaman untuk menjenguk Agus Aim, Ning Musyafaah, Gus Najib, Gus Anas dan alumni Mambaus Sholihin yang belajar di sana. Pengasuh selain bermaksud menghibur putra-putranya yang masih dalam duka atas meninggalnya Bu Nyai, juga untuk silaturrahmi kepada rektor ahgaff (Prof Habib Baharun) sekaligus memintai kesediaan sang rektor untuk memberi izin Gus Najib guna bisa pulang ke Indonesia (mengabdi di Mambaus Sholihin –red). “Semoga Habib Baharun memberi izin kepada menantu saya (Gus Najib-red) untuk dibolehkan pulang dan mengabdi di pondok Mambaus Sholihin, karena sudah dua kali Gus Najib meminta izin, tapi sang Rektor belum kasih izin. Semoga yang ketiga kalinya ini Habib Baharun memberi izin kepada menantu saya, karena Gus Najib adalah santri Indonesia pertama yang di ahggaf begitu juga putri saya Musyafaah mahasiswi indonesia pertama yang sekarang sudah 14 tahun di sana. Semoga Habib Baharun mendapat isyarat dari Allah, sehingga memberi izin kepada menantu dan putri saya setelah lulus munaqosah S3 universitas ahgaff.” Ucap Romo Kyai.
Dalam kesempatan malam ini, beliau meminta doa kepada santri. “Semoga keberangkatan saya dan keluarga ke Makkah dan ke Yaman dapat ridlo Allah, selalu dijaga kesehatan dan keselamatan hingga bisa kembali ke pondok untuk mengajar para santri-santri. Dan selama saya tidak di pondok, kegiatan harus tetap berjalan sebagaimana mestinya, peraturan pondok tetap ditaati, jangan ditinggal kyainya pergi ke luar malah yang di pondok merasa bebas dan tak mentaati peraturan. Saya harap pengurus tetap menjalankan amanatnya dengan niat Khidmah pada pondok, untuk menjalankan semua kegiatan berjalan sebagaimana mestinya” ucap beliau dan kemudian ditutup doa. /Mambast Pos/agus ibrahim.
Di Balik Cadar Santriwati Mambaus Sholihin
Di pesantren Mambaus Sholihin, Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sana. Pesantren yang diasuh oleh KH Masbuhin Faqih, tokoh NU Kabupaten Gresik ini, saya tidak menyangka jika santri putrinya bercadar. Ini tentu tidak lazim di kalangan pesantren NU.
Hal ini baru saya ketahui ketika saya didapuk menjadi pengisi Diklat Jurnalistik majalah Al-Fikrah, Jum’at (11/1), bertepatan dengan milad atau ulang tahun majalah tersebut. Otomatis saya sendiri tertular semangat milad, karena ketika matahari sudah merangkak ke barat, para santriwati bergeming dan tetap antusias dengan materi Cara Menata Keredaksian secara professional yang saya sampaikan.
Hal itu terlihat juga dari proses dan hasil kerjasama di antara mereka ketika itu dibagi menjadi sepuluh kelompok. Setiap kelompok diwajibkan membuat susunan redaksi lalu membuat nama baru sebuah majalah sekaligus tema utama dan motto majalah tersebut hanya dalam tempo 20 menit!
Kemudian mereka bekerja sesuai bidangnya masing-masing, seperti layouter yang menggambar cover majalah, fotografer yang mengambil gambar, reporter yang membuat head line berita, redaktur yang membuat berbagai macam rubrikasi, dan pimpinan redaksi yang membuat tulisan pengantar majalah.
Baik peserta santri putra maupun putri yang semua berjumlah 150 ini tidak mau kalah, dalam waktu sesingkat itu ternyata mereka mampu menyerahkan cover majalah baru dengan tema utama, susunan redaksi lengkap, salam redaksi serta rubrik-rubrik baru dalam majalah yang sebelumnya tidak terpikir di benak saya.
Ternyata, di balik cadar pun tak mengurangi aktivitas mereka untuk menulis dan berkarya. Bahkan ketika saya membaca isi dari majalah pesantren tersebut, saya melihat banyak sekali tulisan mereka yang bagusnya luar biasa.
Salam Cinta Indonesia.
- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/01/23/di-balik-cadar-santriwati-mambaus-sholihin#sthash.agsNHRwt.dpuf
Oleh : Arif Khunaifi
Santri Maha TeBe Indonesia
arifkhunaifi@yahoo.co.id
Satu Hari Dua Duka
SATU HARI DUA DUKA
AJAL MANUSIA
tak ada yang tahu kapan datangnya, hanya Allah semata yang tahu kapan nafas manusia berhenti. Selasa 5 Pebruari 2013 menjadi hari duka bagi Mambaus Sholihin, dua santri (putra-putri red) dipanggil yang maha kuasa. Nurma Wahyuni, pengurus putri pondok Mambaus Sholihin II (Pondok putri selatan-red) jam delapan pagi kemarin (5/02) mengembuskan nafas terakhir di rumahnya. Santriwati lulusan MA Mambaus Sholihin 2012 jurusan Bahasa itu dikabarkan izin pulang untuk mengambil KTP, tapi karena ada udzur sakit yang lumayan lama (penyakit dalam) sehingga tidak bisa langsung kembali ke pondok, baru setelah ada rencana akan kembali ke pondok pada hari Selasa (5/02), takdir berkata lain, santriwati asal Benjeng Gresik itu wafat.
Pagi kemarin menjadi hari duka bagi santriwati Mambaus Sholihin, pengurus pondok selatan bagian dept. Pengairan kelahiran Gresik 26 Agustus 1993 itu begitu cepat meninggalkan dunia. Hari selasa yang direncanakan akan kembali ke pondok untuk kembali menuntut ilmu sekaligus mengabdikan diri sebagai pengurus itu menjadikan tangis kesedihan bagi keluarga, terutama ibunya. Padahal pagi itu almarhumah meminta gorengan buatan ibunya untuk bisa dibagi pada teman-temannya saat sampai pondok. Tapi itu semua hanya rencana, tuhan tetap yang menentukan ajal kapan dijemput. Hari itu juga para santriwati pondok selatan (Ponsel) mengadakan sholat ghoib sekaligus kirim doa untuk almarhumam Nurma Wahyuni.
Kabar duka juga dirasakan di pondok putra Mambaus Sholihin. Fakhin sapaan dari nama lengkap Muhammad Fahrur Rozi Khozin al Qurtubi itu wafat kemarin (5/02) di usia 15 tahun. Laki-laki kelahiran Jakarta 4 Juli 1998 itu hari-hari sebelumnya tidak diketahui penyakitnya. Menurut teman sekelasnya, Fakhin kakinya keseleo (terkilir) sehingga dia lebih banyak menginap di UKP (Unit Kesehatan Pondok). Dalam keadaan kakinya sakit digerakkan dalam beraktifitas, sosok Fakhin tetap semangat dalam menuntut ilmu. Untuk bisa mengikuti kegiatan belajar-mengajar (KBM) diniyah, ia satu hari kemarin (3/02) masih mengikuti diniyah di lantai 3 gedung MTs dengan perjalanan dituntun oleh temannya.
Putra bapak Marzuqi itu dikenal tidak banyak tingkah, sering diam sehari-harinya. Secara penyakit, dia selain kakinya terkilir juga sering merasa pusing kepala dan panas. tanda-tanda penyakit yang parah tidak ada di sosok siswa kelas 3 E Mts ini, selama menginap di UKP, dia masih aktif mengikuti sholat jamaah di ruang setempat. Kepergiannya sangat cepat, shubuh saat itu dia masih ikut berjamaah dan setelahnya dia istirahat di UKP, mendekati masuk waktu dzuhur saat penjaga ruang kesehatan ikut tidur dekat dengannya, tiba-tiba ada suara yang terucap dari Fakhin. “Aku bangun setelah mendengar ada suara merintih, aku bangunkan dia, karena aku kira ngingau (ngelindur) dan saat itu dia langsung dilarikan ke Klinik karena takut ada apa-apa.” kata Najwan penjaga UKP saksi mata. sedang menurut Kholil, pengurus yang membopong tubuhnya dari UKP menuju klinik menyatakan, “Dalam keadaan ketakutan kalau ada apa-apa dengannya, saya larikan ke Klinik, saat saya bawa menuju klinik keadaanya sudah lemas, saat diperiksan oleh dokter, dia sudah tak bernafas. Sepertinya dia menghembuskan nafas terakhir di ruang kesehatan.” tuturnya saat menunggu jenazah dimandikan kemarin sore.
Menurut Maimun, kepergiannya begitu cepat, padahal siang itu juga ibunya yang ada di jakarta baru saja mentranfer uang untuk Fakhin dan adiknya Ikrom kelas 6 MI yang tinggal di kediaman Pak Malik. Dan kabar duka itu membuat ibunya tak percaya setelah dihubungi maimun, ibunya tak bisa menahan kesedihan yang tiba-tiba datang mengagetkan.
Sore itu juga 17.00 WIB jenazah disholatkan di mushola akbar dipimpin oleh KH Masbuhin Faqih, doa oleh KH Zainul Arifin dan Isyad oleh Ust H Abdul Malik. Jenazahnya baru dibawa ke juanda pukul 19.05 WIB sampai juanda 20.10 WIB dan tak off 23. 05 WIB.
Sosok Syahid akhirat ini telah wafat, sosok Fakhin adalah pejuang ilmu yang meninggal dalam tholabul ilmi. Bagi teman-teman santri yang merasa punya hak utang-piutang dengan almarhum untuk segera menyelesaikannya di Ust. H Malik. Semoga dosa-dosa almarhum diampuni Allah, semoga amal baik selama bermualah dengan manusia diterima di sisi-Nya. Semoga Surga adalah tempat yang pantas bagi seorang santri yang wafat dalam keadaan menuntut ilmu ini. Allahummagfirlahu, warhamu waafihi wa’fu’anhu.....(Mambast Pos/Selasa 5 Februari 2013)
Langganan:
Postingan (Atom)


