468x60 Ads

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

IBU, AKU ANAK DAN MURIDMU....




Ibu...

lautan kasih sayangmu tak pernah membuihkan asma di dada...
senyuman seorang dikau selalu menjadi kebahagiaan yang terasa...
sehingga tak pantas kami durhaka atas langkah yang ternoda...



ibu.....
mata jauh memandang, hati dekat dengan kasih sayang...
luapan cinta yang terjun dari gerba rahimmu tak pernah memendam dilautan masa lalu yang redam...
kami tak akan mengingkari, kalau kau ibuku, aku anakmu...


Ibu...
do'a-do'aku memburu langit, menyusup harapan yang terbesit...
entah di hati atau atau di sanubari..
semoga jasa-jasamu bisa terbeli oleh ketaatanku yang rendah diri...



ibu...
aku selamanya mencintaimu...

ibu..
aku selamanya menyanyangimu...

ibu...
aku cinta dan sayang padamu...

ibu, kau layak dipanggil guru, karena telah melahirkan banyak guru...

ibu...
aku bangga jadi anak dan muridmu...


                                                   Suci, 2 Maret 2013

Perjalanan Religi KH Masbuhin Faqih di Tarim Yaman

Hamam Yaman bersama KH Masbuhin Faqih. (2013)







         Perjalanan Religi KH Masbuhin Faqih di Tarim Yaman

Gus Najah, KH Masbuhin Faqih, Gus Aim. (2013)
   TAREEM – Senja kali itu sungguh berbeda. Setitik rasa menyeruak menelusup ke relung-relung jiwa dalam raga. Memicu gejolak rindu untuk keluar setelah lama terpendam tak tertahankan. Berbondong-bondong, menuruti bisikan kata hati kami memacu sepeda menuju flat yang terletak di kawasan Darul Musthofa. Semakin mendekati flat, harum sosok itu semakin jelas menyengat. Berdentam-dentam memaksa rasa rindu ini untuk keluar dari dalam dada. Keluar untuk bertemu dengan sosok yang dirindukan. Tiba di flat baru agus Muhammad Anas, kami menemukan sosok itu terduduk di antara saudara-saudara kami yang mengerumuni beliau. Allah, sosok itu terlihat semakin menua. Bekas-bekas hitam yang tampak di keningnya membuat kami harus merasakan rindu ini lebih dahsyat dari yang kami pendam. Sosok yang kami tunggu kedatangannya. Sosok yang selalu kami rindukan petuahnya. Sosok teduh berwibawa yang telah memberi keteladanan besar dalam hidup kami dan semuanya.

    Kamis (28/02) pertama kali beliau tiba di kota Tareem al-ghonna setelah sebelumnya, rabu pagi singgah di kota Mukalla. Bagaikan oase di padang gersang, hati kami yang kering mendapat siraman yang begitu kami dambakan. Beberapa kali beliau mengingatkan tugas kami sebagai seorang pelajar. Beliau menyitir beberapa kalam hikmah dan menekankan adab di kota yang terkenal akan ribuan walinya ini. Adab, yah kata itu yang seringkali beliau singgung dalam pertemuan yang begitu akbar bagi kami. Adab adalah pokok utama yang beliau kemas dalam kalam hikmah yang begitu panjang nan menenangkan. Karena kota tareem bukanlah sembarang kota. Jika kita mampu menjaga adab di kota ini, insya allah kita akan merasakan atsar yang sangat besar di balik itu semua. Jangankan kami yang tinggal selama 5 tahun. Bahkan beliau yang hanya beberapa hari mampu merasakan atsar dari kota yang menjadi salah satu lukisan surga dunia ini. Beliau mengatakan seharusnya kami bersyukur bisa tinggal di kota ini, karena kota ini merupakan secuil dari panorama akhirat dan benar-benar mengingatkan akan kehidupan kedua kami kelak. Setelah majlis kerinduan itu digelar, kami bersama beliau serta agus Majdudin, Agus Muhammad Najib, agus Muhammad Anas, agus Muhammad Ainun Naim dan agus Muhammad Sa’dul Kholqi berbondong-bondong menuju Darul Musthofa untuk mengikuti rangkaian perjalanan pertama yaitu Maulid Nabi bersama Habib Umar bin Hafidz. Setelah sholat isya’ nampaknya kerinduan beliau kepada Habib Umar terobati sudah. Disambut senyum teduh habib Umar, beliau dan kami berhasil bertemu dan mushofahah dengan Habib Umar.     Jumat pagi (01/03) langkah kaki beliau melangkah menuju central kota tareem yaitu maqbaroh Zambal yang mana setiap jumat pagi selalu rutin diadakan ziaroh kubur para habaib kibar yang dipimpin oleh habib Ali Masyhur dan Habib Umar bin Hafidz. Di maqbaroh ini beliau merasakan kedekatan dan rasa mahabbah yang lebih dengan para dzurriyyah rosul karena maqbaroh zambal adalah tempat para auliyaillah dan habaib disemayamkan diantaranya imam Faqih Muqoddam, imam Al-Haddad dan lain sebagainya.

    Perjalanan beliau tak hanya berhenti sampai di situ, karena esoknya, hari sabtu (02/03) langkah beliau menapak menuju masjid-masjid bersejarah di kota Tareem di antaranya masjid Ba Alawy, masjid Al-Muhdlor yang terkenal dengan menara setinggi 40 meter yang terbuat dari tanah liatnya serta masjid Al-Fath tempat ibadah imam Al-Haddad. Tak hanya masjid, beliau juga mengunjungi para habaib yang masih hidup di antaranya habib Salim Asy-Syatiri dan Habib Abu Bakar bin Smith. Sore harinya, sesuai yang telah terjadwal di bumi Hadhramaut, beliau berangkat menuju kota Seiyun, berjarak satu jam dari kota Tareem untuk menghadiri Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (shohib maulidul haabsyi simtud duror) yang dihadiri lebih dari ratusan orang dari berbagai negara.


Hamam Yaman bersama KH Masbuhin Faqih. (Perjalanan Kyai usai Umroh; langsung menuju negara Yaman).

    Hari Ahad (03/03) langkah beliau selanjutnya menuju kota Husaisah, tempat di mana jadd seluruh Habaib hadhramaut dimakamkan, beliau adalah Imam Al Muhajir Ila Allah Ahmad bin Isa. Sosok yang selalu kita kirim al fatihah di kala membaca rotibul haddad.

    Senin pagi (04/03), beliau berlanjut menuju desa Inad tempat kubah maqom syekh Abu Bakar bin Salim berada. Beliau adalah jadd dari habib Umar bin Hafidz. Malam harinya, tepatnya tadi malam, acara puncak digelar di flat agus Muhammad Anas. Tak lain dan tak bukan adalah acara pamit undur diri beliau dari kota tareem. Serasa hampa, kerinduan kami belum sepenuhnya terobati. Dalam kurun waktu beberapa hari, senyum beliau, nada bicara beliau serta kalam beliau begitu mengisi relung ini yang benar-benar telah kering dari aliran bimbingan beliau. Entah, kapan lagi kami bisa bertemu beliau. Hanya tuhan yang tahu. Acara yang juga dikemas dengan acara tahlil 40 puluh harinya Bu Nyai serta dalam rangka taisir umur kehamilan istri agus Muhammad Anas serta kepulangan beliau itu dihadiri oleh santri-santri Mambaus Sholihin Yaman, KESAN Langitan serta beberapa orang dari Darul Musthofa. Hari ini (05/03) beliau bertolak menuju kota Mukalla. Singgah di sana sampai hari Sabtu untuk kemudian kembali ke tanah air, berkumpul kembali bersama saudara kami di Indonesia. Doa kami selalu teriring untukmu ya Syaikhina. Nuhibbuka fillah. Senyummu, nasehatmu serta kalammu akan selalu kami letakkan dalam dada. Mengiringi hari-hari kami sebagai wujud ridlomu pada kami, anak-anakmu. Malam perpisahan berurai titik-titik kerinduan, bi qolami al faqir Adly Al-Fadlly (Reporter Mambast Pos Yaman) .


Malam Menemani Sahabat Revena




Sahabatku…..
Di malam  tanpa kerlip cahaya  ini aku masih dapat melihat wajahmu….
Aku masih bisa mengedipkan mata dan mengirup udara
Gelap tak lagi petang, terang tak harus benderang…
Tapi bersahabat dengan kalian hati berbinar senang dan riang….

Sahabatku…..
Dulu kita duduk sebangku dan membaca se-irama
Menulis dan memahami bersama
Tapi hari esok sudah berbeda
Jangan salahkan hari dan tanggal apalagi tahun
Tapi Salahkanlah pertemuan…
Pertemuanlah yang mengundang perpisahan….

Sahabatku…..
Kertas akan selalu basah memeras air mata
Air mata akan selalu dingin membaca suasana
Suasana akan selalu rindu pada pertemuan
Pertemuan yang paling rindu dengan suasana air mata adalah
20 tahun yang akan datang….

Sahabatku…
Revena adalah tempat kita bercerita
Berbagi rasa dan menebar senyum bahagia….
Reneva boleh di sana, tapi jiwa harus selalu bersama
Revena kenangan manis kita yang tak akan kikis
Revena ada karena kita
Revena jaya karena semangat membara
Revena hanya milik Seven A….

Sahabatku…..
Malam ini aku menangis…
Aku tak bisa kumpul se-lantai dengan kalian…
Tapi tangisanku akan selalu jatuh ke lantai bersama kesepian…

Malam ini aku menangis….
Aku tak bisa berbagi luka karena kau tak lagi berduka…
Tapi aku hanya bisa membius diam menuju angkasa jua…

Malam ini aku menangis…
Apa kau juga mau menangis…?
Kalau kau benar sahabat yang erat, marilah kita menangis bersama
Menyanyilah bersama dan menangislah bersama….dengar inilah irama:

Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikit pun ku bayangkan..
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Begitu sulit ku bayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri….                       
Di bawah batu nisan kini kau tlah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
Sungguh ku tak sanggup ini terjadi
Karna ku sangat cinta….
Ini lah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih
Satu jam saja ku telah bisa
Cintai kamu kamu kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup 2 x
Di nantiku                                                              

                   Revena Menemani Malam 23 Juni 2012  

Suaraku Hanya Untuk Satu Pemimpin



Suaraku jadi bukti yang  terpatri
Sesekali putih mereka perih
Sesekali ganda mereka hina
Sesekali kosong mereka banyak omong
Aku bingung mau pilih yang mana?
Tiga diantara mereka adalah satu nyawa satu asa
Satu diantara dua ada yang merana
Akupun dengan hati menjelma jadi satu suara
Suaraku hanya untuk  pemimpin yang banyak bekerja
                                                             Rabu.  Suci, 14 Maret 2012. Pukul : 13.45
                                                             (Saat Pemilu BEM I 2012-2013)

Sejarah Koran Mambast Pos Pondok Pesantren Mambaus Sholihin


Mambast Pos adalah media informasi aktual seputar pondok pesantren Mambaus Sholihin. Media berbentuk koran ini awal kali terbit pada 5 Desember 2010 saat Agus Ibrahim menjabat Sekretaris pusat pondok pesantren Mambaus Sholihin Masa khidmah 2010-2011.
Seiring dengan berjalannya waktu, kini Mambast Pos sudah dikenal oleh santri Mambaus Sholihin dan Alumni. Berita yang tersajikan dengan format selembaran koran yang tertempel di Mading pondok (putra-putri) ini juga bisa diakses oleh almuni di jejaring facebook (page : MAMBAST POS) dan blog; http://mambastpos.blogspot.com.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
      MAMBAST POS mengukir sejarah dengan tinta hitam kebanggaan penulis berpadu dengan merah darah para pejuang. 365 hari yang lalu. 05 Desember 2010. Aku terlahir dari rahim Mambaus Sholihin. Terlahir dengan sejuta harapan, sejuta inspirasi dan sejuta motivasi untuk mambaus sholihin. Tak ada tangis, tak ada tawa. Hanya ada semangat membara dalam mencipta lembar-lembar sejarah yang terserak. Menyatukannya dalam tulisan yang akan mengikatnya abadi. Tak kan hilang ditelan masa. Demi satu nama yang begitu aku damba MAMBAUS SHOLIHIN.

          Aku tak pernah lupa satu kata yang begitu akrab di telingaku sejak diriku lahir. JAS MERAH (Jangan sekalipun melupakan sejarah). Terucap lantang dari bibir ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia 66 tahun silam. Kata-kata itu menancap kuat dalam memoriku. Melecut semangat hidupku, menyadarkanku bahwa kehadiranku ditengah-tengah Mambaus Sholihin adalah untuk meneriakkan pada seisi dunia tentang keberadaan dan keeksisan Mambaus Sholihin dari masa ke masa. Mengukir sejarah, mengumpulkan lembar demi lembar memori, keping demi keping slide-slide yang pernah terjadi di bumi Mambast. Menyatukannya dengan tinta hitam kebanggaan dalam bentuk tulisan yang kelak akan menjadi saksi kehidupan Mambaus Sholihin. Bukankah imam Ghozali pernah berkata bahwa sebuah tulisan merupakan ikatan yang tak akan hilang ?

        Dari awal aku tak begitu yakin bisa hidup menemani Mambaus Sholihin. Tapi tidak untuk sekarang. Seiring dengan semangat orang-orang yang menjalankan diriku, aku tak lagi takut. Aku berani menatap masa depan cerahku demi Mambaus Sholihin. Suntikan energi yang diberikan oleh mereka begitu menyulut semangat hidupku. Mengisiku dengan coretan tinta tentang Mambaus Sholihin serta mengukir tubuhku dengan sejarah Mambaus Sholihin. Aku terus berharap, diriku mampu menjadi sejarah keabadian Mambaus Sholihin. Aku juga ingin, suatu ketika nanti melalui diriku semua orang tahu tentang Mambaus Sholihin. Dari sanalah aku akan menjadi sebuah sejarah. Yang akan dikenang dan takkan punah meski zaman telah berubah.

            Dengan langkah terseok-seok aku mulai merangkak hingga kini satu tahun berhasil aku lewati dengan perjuangan hidup yang begitu berat. Banyak hambatan yang aku temui dalam perjuanganku. Hambatan Layaknya ajal yang menghentikan kreatifitasku. Kala komputer yang menjadi makanan pokokku rusak, print pengobat dahagaku tersendat, kala aku harus mengalah demi tugas-tugas yang lain yang lebih penting dariku dan satu hambatan yang sangat aku takuti kala tenaga orang yang menjalankanku begitu terbatas. Dari tenaga merekalah aku bisa tetap kokoh berdiri menampung semua serpihan sejarah Mambaus Sholihin yang aku kumpulkan dan aku simpan dalam tubuhku. Masih terekam dalam memoriku dan takkan hilang, tak akan pernah, Perjuangan awal diriku yang hanya dijalankan oleh 3 orang yang begitu gigih mempertahankan keeksisanku. Wajah semangat Mas Ayib Abraham (Agus Ibrahim), Adly Al Fadly (Fadlillah) dan Mas AL (Alvin Nur Choironi). Di tangan merekalah aku mulai merangkak meski terseok-seok tanpa dana untuk menghidupiku. Tapi, berbekal tekad untuk membangun sejarah dan semangat untuk berkarya akhirnya kehidupanku sedikit demi sedikit mulai memancarkan titik terang masa depan.

         Dengan iringan waktu yang terus berputar, aku terus menyusun sejarah, menatanya layaknya puzzle yang harus aku rangkai. Mencipta sedikit demi sedikit serakan sejarah Mambaus Sholihin, menyimpannya dan suatu saat nanti diriku akan muncul sebagai kenangan yang takkan terlupa. Dan waktu pulalah yang akhirnya merubah takdirku menjadi lebih baik. Kini, aku telah sanggup berdiri. aku sanggup menyajikan banyak dari sejarah-sejarah Mambaus Sholihin yang tersia-siakan dan telah berhasil aku kumpulkan. Kini aku telah memiliki ruangan untuk diriku sendiri, semakin banyak orang-orang yang menjalankan diriku. Banyak dari mereka yang sangat memperhatikan diriku. Aku semakin yakin hidupku akan mampu mengiringi Mambaus Sholihin karena aku adalah separuh jiwanya. Aku adalah sejarahnya.

        Setahun bukanlah waktu yang singkat dalam berjuang. Tapi aku juga sadar perjuanganku masih panjang. Aku harus tetap eksis. Harapanku di usiaku yang menginjak setahun ini hanya satu. Aku ingin menjadi sejarah keabadian Mambaus Sholihin karena aku yakin, sepuluh tahun yang akan datang, 20 tahun yang akan datang atau bahkan seribu tahun yang akan datang aku pasti berguna. Aku akan tetap hidup. Meski semuanya habis tak berbekas. Akan aku teriakkan pada dunia nama Mambaus Sholihin. Akulah sejarahnya. Akulah sang pendongeng tentang Mambaus Sholihin karena aku punya catatan sejarah Mambaus Sholihin yang telah ditulis oleh tinta hitam mereka. Sadarlah, sejarah adalah sesuatu yang sakral. Yang harus tetap ada dan tetap terjaga. Karena dengan sejarah kita akan mengetahui semua yang terjadi dengan sejarah itu. Sejarah mampu menjadi motivasi serta inspirasi dan sejarah adalah saksi dari adanya sebuah kehidupan. Akulah Tinta Sejarah Mambaus Sholihin.

Suci, 3 Desember 2012




Maaf aku tidak bisa membuat kado buat kalian
Aku lupa, aku kosong, kadoku hanya doa
Semoga kau panjang umur dalam kebaikan
Itulah isi kadoku….

Suci, 3 Desember 2012
(Ultah Adam 3 Desember, Robin 2 Desember)

Putih





Putih terlalu senyap bagiku,
hingga melenyapkan hasratku,
tapi mengapa penyair selalu lantang dengan corak warna kesucianmu meneriakkan
isi kata-kata dengan bangga?
Mungkin dia selalu menyimpan segumpal awan di dadanya, sehingga putih juga hatinya….
Putih, benar-benar mengalirkan darah dari ujung kendi kebangganku hingga tersipu malu di ujung jari ketulusanku…
Putih, kau hadir sebening mata bidadari yang mengalir dari
Lubuk hatinya menuju suci cintaku….

Suci, Selasa 20 Nopember 2012
(Puisi atas permintaan Shofiatus Sholihah lewat Facebook)

Mendung





Mendung, kemana kau bawa air mataku saat gelap bersenandung
Memuji sang pencipta alam semesta yang agung

Mendung, cahaya bulan purnamaku amuk dan bintang gemilangku remuk
Karena kau puji dia semalam suntuk

Mendung, luapan rindu gemuruh menagih petir, hampir
Tetes gerimis membawa angin sumilir

Mendung, petang atau terang kau menerjang langit-langit duniaku
Jelaskan sekarang.

Mendung, benar-benar mencebur dalam sanubariku
Luruh bersama madah indah sang pujangga nabiku

Mendung, kapan kau datang?
Musimmu lama ku nanti sampai malam ini.

Mendung, kau benar-benar datang saat menitku menunggumu
Sehingga aku tak usah menunggu malam, saat kau datang  sampai tak ada ucap salam
Mendung, aku tersenyum manis, karena kau datang membawa gerimis.

Suci, Ahad 4 Nopember 2012.
21.00 WIB

Rembang 21 Oktober 2012 M





Rembang,
mulai kulambaikan tanganku saat kakiku menginjak bumi asrimu, di saat itulah mulai kubuka hatiku sambil kubuka pintu mobil mahalmu…

Rembang,
perjumpaan pertamaku dengan hamparan putih garammu, disambut jiwa suci nan berseri…

Rembang,
aku bangga menghirup nafasmu, menyerap corak panoramamu, hingga goresan syair tinta pelangimu…

Rembang,
aku mulai melambaikan tanganku, saat kumpulan karyamu telah aku miliki di saat pagi mataharimu menjemput subuh berlalumu…

Rembang,
aku bangga mengenalmu. Perjumpaanku denganmu telah mengobati rasa rinduku saat mimpi terus memburu sunyi berpuisi…

Rembang,
 kan kukenang perjumpaanku denganmu, hingga akan kutulis namamu di jalur-jalur jalan ragamu menuju suci bumiku. Rembang, rembang, rembang salamku untukmu dan untuk  Gus Musku.

Rembang 21 Oktober 2012 M/11 Dulhijjah 1433 H. 

Sahabat-sahabatku…..



Jarum jam telah bergeser bersama hembusan nafas kedewasaan…..
Tempat duduk kita telah basah oleh keringat  letih payah kesibukan….
Pena alat kita menggores kata telah tersimpan di kertas berdebu yang rata…

Oh sahabatku…
Ingatkah kalian pada papan hitam dan kapur putih yang setia menerjang angan membius lelah dan menerpa geram…
Ingatkah kalian pada raga yang selalu tegap menantang kebodohan yang pahit…
Ingat! Ingatkah kalian pada masa itu…masa itu bisu masa itu diam, walau masa itu telah berlalu tapi dekatlahlah hati kami dengan kehangatan persahabatan,…
Sahabat-sahabatku..
Awan dan angin sekalu bersama dingin
Batu dan debu selalu rindu pada deru…
Oh sahabatku, kita kenang selalu masa itu….

Suci, 2 Oktober 2012





Kebahagiaan Anak Yatim di 10 Muharrom

Manusia berbaju kedermawanan terus menanti,
hingga gemeter tangannya menyentuh bayangan rambutnya….
Senyumnya berpegang kuat pada urat takdirnya….
Nakalnya bergegas berkelana menyusuri gagasan segarnya, hingga mengalir
deras menuju pangkal derajatnya….

Suasana langit selalu menamani ia tertawa
Kerikil kecilpun ikut bahagia di samping candanya
Semoga Allah selalu menjaga kebahagiaannya…..

Hari ini hatinya disiram kasih sayang manusia
Tangannya dipegang erat hati yang berderma
Dia Pi’I, kecil bergaya kecil dan tubuh kecil
Dia Pi’I, besar gagasanya dan besar pusarnya
Dia Pi’I yang bahagia di bulan Muharrom ini

Puasanya menghiasi langit, tangisnya bau sangit
Tatapan matanya tajam menuju lingkaran kepuasan
Derap langkahnya tak terselip bayangan kepayahan
Tangannya ramping bagai kayu siwak memburu ganjaran
Sayang, hari ini dia tak bisa menangis…
Karena hari ini dia basah oleh hujan kebahagiaan 10 Muharrom….


          Suci, Sabtu 24 Nopember 2012 M
         10 Muharrom 1434 H 
(kutulis untuk Syafi’I 2G Mts asal Surabaya,
ku bisa mengelus kepalanya dan berbuka Puasa 10 Muharrom bersamanya )






                               Langitku Bertakbir 

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…..
Langit duniaku bertakbir dan di atas secercah
cahaya tujuh lapis langit, aku menyebut nama agung-Mu…
Ya Tuhanku, putihkan hati hamba saat nama agung-Mu memburu cakrawala semesta…
Ya Robbi, kuatkan iman hamba saat bisikan iblis mendekap ubun-ubun kepala….
Ya Allah, sucikan jiwa raga hamba saat kemaksiatan mengalahkan segala-galanya…

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…..
Malam ini bumi berbinar kemilau takbir
Bintang terpanjar di langit-langit puji-Mu
Badai laut menggiring lafad keagungan-Mu, hingga terapung di pintu mustajab-Mu

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…..
Aku ingat saat Ismail mendapat coba,
Hingga iblis medera sengsara, putus asa
Kesabaran bocah yang betah,
Mempertahankan cinta tuhanya yang pasrah

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…..
Wahai Ibrahim bapak jagad manusia, tampaknya mimpimu telah nyata
Hingga kau lelap dan lupa akan 1000 ekor kambing dan 300 domba yang rata
Wahai Ismail putra semesta raya, benih cinta yang kau tanam telah tumbuh
Hingga daun dan tangkai telah membuahkan kesabaran yang utuh

Malaikatpun bertakbir: “Allahu Akbar….Allahu Akbar….Allahu Akbar….”
Ibrahimpun berdzikir: “Laa Ilaaha illa Allah Wallahu Akbar”
Bergetar Ismail di akhir: “Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd”



Suci, 21 Oktober 2012 M/ 5 Dzulhijjah 1433 H
Pukul: 06.40 WIB


Al Ghozali, Kaulah Asrama yang Kurindu…




Al Ghozali….
Tiga tahun aku di dalam kandunganmu,
tanpa cacat tanpa pakaian yang melekat pada sukma ragaku…
Sukma yang terbelah oleh belaianmu telah meresap pada blazer kebanggaanku…

Al Ghozali….
Kaki dan tanganku telah bercampur imajinasi, mata dan otakku telah terbeli
Tetapi apa kau tak pernah bertanya pada pagar
dan menara yang menjulang tinggi meneriakkan kegagahanmu…

Al Ghozali….
Namamu telah terparti pada lembar sejarahku…
Selendangmu telah melilit leher menaraku…
Benderamu telah terkibar bersama gagahnya pohon palam berdaun sutera…
Sungguh, aku bangga menyebut namamu…

Al Ghozali….
Bersama petir menyambar aku titipkan salamku…
Bersama hujan gerimis aku menangis,
mengingat saat aku bermesraan dan bercumbu rayu denganmu…
saat ini  sendiri bersama bulan,
aku sering berteriak dan membuang nafas tanpa mengingat jasamu…

Al Ghozali….
Ilmu-ilmu yang melekat pada lembar telah hambar dan riuh tertiup angin gunung
Goresan tinta hitammu bercampur kapur putih telah kering bersama kering kerontang badanku…
Di malam ini aku teringat lagi pada masa nakalku dan bodohku…
Setiap nafas berbeda angan, tetapi satu tujuan selalu menyatu bersamamu…
Aku rindu masa lalu itu…

Al Ghozali….
Dimanakah rekaman jejak hidupku yang telah aku gores di atas sampul al fiyahku…
Hilangkah atau bersembunyi di balik keperawananmu?

Al Ghozali….
Malam ini aku bertabur bintang bersama angin,
Berpeci kebanggaan dan berjubah kemesraan…
Sungguh, air mataku kering terkuras kapas dan tertelan bersama permen manisku…

Al Ghozali….
Aku tidak akan duduk tersimpuh sedikitpun dalam keadaan pengecut, walaupun seribu musuh
menghadang di depanku….
Al Ghozali…kaulah asrama yang kurindu….

Suci, 20 Maret 2012 (Malam acara Al Ghozali bertabur bintang)



Aku dan Ayahmu

Tangkai yang menggantungkan apel kecerdikanmu
terkikis ulat pohon
hingga daun-daun hijau penuh gairah
tak terjamah ulat berhati serakah
tapi agaknya hari ini kau bisa menggulung nasib
di mana tidak ada hari yang bisa membuat nasibmu meraung di atas punggung

introspeksi!
introspeksi!
introspeksi!

Kau lahir hari ini,
Kau bernafas hari ini,
Kau bisa mencerna kehidupan
dengan mapan, juga hari ini!

Tapi aneh, mengapa ayahmu tak mengajakku
bersatu setelah kelahiranya sama?
Adakah janji dalam perut yang akut,
atau memang dia dan aku takut?
Sudahlah, yang penting AKU dan AYAHMU lahir!

Suci, 24 Nopember 2012
(Kutulis untuk Aqil Malang, karena dia ulang tahun
Dan ulang tahun ayahnya sama sepertiku, 10 Desember)