468x60 Ads

Wakijo Penjaga Pasar. Cerpen Kedua belas dalam Buku Kumpulan Cerpen Lalat dari Jerman


Wakijo Penjaga Pasar

Pasar di pagi hari yang masih ditemani gerimis. Suasana sepi. Toko-toko masih
tutup. Jalanan becek oleh air hujan membuat banyak orang malas ke pasar. Di depan
toko Mitra Usaha terlihat sosok seorang lelaki. Badannya kurus, rambut gimbal, baju tak karukaruan.
Ia duduk di depan toko dan berbicara sendiri, seakan berpetuah pada angin. Orang- di pasar biasa memanggilnya Wakijo.
            Wakijo tidak jelas asal-usulnya. Ia tiba-tiba muncul di pasar itu sekitar sepuluh tahun lalu, saat pasar sedang kebakaran. Menurut beberapa orang, Wakijo dulunya orang kaya yang bangkrut dari usahanya. Dan kemiskinanan yang ia alami menjadi beban berat yang selalu menindih pikirannya sehingga ia menjadi gila.
Aktivitasnya sehari-hari hanya berdiam di tengah pasar. Sesekali berteriak-teriak sendiri. Ketika mengawasi anak kecil yang ikut orang tuanya belanja di pasar, Wakijo sering tertawa terbahak-bahak. Bagi orang pasar sudah wajar. Makan dan minumnya datang sendiri dari uluran
pemilik toko yang bergilir. Sering pula dia makan nasi sisa, buah-buahan serta aneka jajan di tempat
sampah. Orang ini tak pernah mengeluhkan rasa sakit pada luka di kaki kirinya, akibat menginjak
paku saat kebakaran sepuluh tahun silam. Ia hanya tertawa dan tertawa.

Pagi yang ditingkapi girimis sudah habis. Sinar Matahari yang menyengat menerpa genting
toko-toko di pasar. Wakijo sepertinya tak pernah merasakan panas, ia tetap diam dan tertawa
bergurau dengan angin. Mungkin angin adalah penghiburnya. Rambutnya tak pernah bergerak
ketika angin menerpa. Maklum rambut gimbalnya tak pernah dibasuh air sampoo. Suasana pasar mulai ramai. Para pembeli dari berbagai lapisan masyarakat berjubel di kerumunan pasar untuk memenuhi kubutuhannya. Di tengah jalan yang sedang dikuasai Wakijo duduk bersila, kemudian berubah rame. Beberapa mobil berhenti, dan sekelompok polisi pamong praja turun ke depan pasar. Para aktivis ketertiban kota itu mengamankan para penjual liar yang mendirikan tenda di depan pasar
tanpa izin. Beberapa dari mereka berlaku kasar, dengan langsung mengobrak-abrik pedagang kaki
lima yang berjualan di depan pasar. Teriak histeris para ibu pecah. Mereka yang tak punya pekerjaan
menolak tindakan satpol PP yang merusak tenda dagangan.
“Pak, kami kerja apa, kalau dagangan kami dirusak paksa seperti ini? Kami sudah susah payah cari lapangan kerja yang halal, kami sudah susah payah membangun tenda, kenapa sekarang
dirobohkan paksa seperti ini. Bagaimana seandainya bapak jadi orang seperti kami... He!” omelan seorang perempuan penjual sandal yang tendanya ikut dirobohkan.
“Jangan banyak omong!”
Tiga puluh lima menit pasar tampak berserakan, tenda-tenda liar depan pasar telah rata. Sementara Wakijo yang melihat kejadian itu hanya tertawa ria dan tetap konsentrasi menangkap angin yang berhembus mesra. Wakijo benar-benar sedang bermesraan dengan angin.
***
MALAM tiba menyambut Wakijo. Orang gila itu tetap khusyuk menikmati angin berhembus di
pasar, baru setengah jam kemudian ia berjalan di tepi pasar mencari sisa makanan di bongkahan
tenda pedagang kaki lima yang telah dirobohkan. Tangannya menemukan sebungkus nasi yang agaknya masih bisa dimakan sehingga ia menyantap makanan itu. Tangannya kembali merogoh kardus yang berisi buah jeruk yang telah busuk, tapi ia memungut juga dan menelannya.
Tiba-tiba ia membuang jeruk itu dari tangannya saat ia mendapati sobekan kertas yang bertuliskan ayat suci al- Qur’an. Ia mencium kertas itu, kemudian tertawa-ria. Sesudah perutnya terisi makanan, ia tidur di depan toko Mitra Usaha seperti malam-malam yang lalu. Wakijo menikmati malam yang larut dan dirangkul mesra oleh dingin malam.
***
PAK LUKMAN termasuk satu diantara pedagang kali lima yang sudah tak punya lapangan pekerjaan setelah kejadian kemarin siang di pasar. Ia kini bingung mencari pekerjaan untuk bisa menghidupi dua anak dan istrinya. Laki-laki bertubuh gemuk ini mondar-mandir membawa map untuk melamar pekerjaan, tapi tak membuahkan hasil. Dia mulai putus asa, dan ia memutuskan akan pergi ke dukun untuk meminta nomor togel. Jalan pintas yang ia yakini bisa segera merubah nasibnya menjadi lebih mujur. Ketika terik mentari semakin terasa, Pak Lukman berangkat ke rumah Mbah Jarwo. Dukun tua yang sangat pengalaman masalah pesugihan. Sepeda motornya berhenti di depan plang bertuliskan “Mbah Jarwo, Dukun Sakti Membawa Keberuntungan”.
Pak Lukman langsung masuk ke dalam rumah tanpa uluk salam. Di dalam rumah yang
dindingnya dihiasi pigura gambar burung gagak itu tak tampak Mbah Jarwo, hanya perempuan
cantik, berbadan langsing dan berambut panjang.
“Mbah Jarwo ada?” tanya Pak Lukman.
“Maaf, Mbah Jarwo lagi ke pasar membeli menyan,”
“Sambil menunggu Mbah Jarwo datang, mending nunggu di kamar saja, enak lho...” ucap
perempuan itu dengan senyum yang mengisyaratkan kemesuman.
“Astagfirullah,” ucap Pak Lukman lalu keluar tanpa pamit.
“Aku khilaf, kenapa aku memilih jalan gelap, padahal pergi ke dukun adalah pekerjaan musyrik, apalagi minta pertolongan pada orang yang prilaku kesehariannya jauh dari tuntunan agama. Astaghfirullah....” gumam Pak Lukman dalam hati penuh penyesalan.
Tanpa pikir panjang, Pak Lukman langsung menuju rumah Mbah Shodiq. Kyai sepuh yang
diyakini sebagian masyarakat sebagai seorang sufi. Jarak rumah kiai Shodiq lumayan jauh, dan
ditempuh pak Lukman dengan sepeda motornya.
“Assalamualaikum, Mbah?” Pak Lukman mengetuk pintu dengan sopan
“Wa`alaikum salam. Monggo selahkan masuk,” jawab Kyai dari dalam
“Ada perlu apa?” tanya Kyai Shodiq dengan sopan
“Kyai, mohon doa dan amalan untuk memperlancar rizki. Semenjak dagangan saya
terkena penertiban saya sudah tak kerja lagi,”
“O itu. Baca Ya Rozzaq sebanyak 117, baca surat al Waqi’ah. Waktunya usai shubuh. Dan akan saya tunjukkan tempat seorang Kyai besar, meskipun identitas lahirnya tidak banyak yang mengenali. Coba datangi beliau dan mintalah doanya. Semoga Allah mengabulkan maksud kamu dengan barokah Doa kiai itu.” Lanjut Kyai Shodiq. Ia kiai Shodiq lalu menuliskan ciri-ciri dan kebiasaan orang yang dia katakan sebagai Kiai besar yang terselubung itu.
“Terima kasih, Mbah. Insyaallah besok usai Sholat Jum’at saya akan mendatanginya,”
Pak Lukman lalu berpamitan pulang. Seusai sholat shubuh Pak Lukman mulai mengamalkan ijazah dari Kyai Shodiq, ia membaca Ya Rozzaq dan membaca surat al Waqiah dengan tartil. Tak lupa sebuah doa selalu diucapkan dengan khusyuk usai melafalkan ijazah dari Kyai Shodiq.
***
MALAM Jumat sehabis sholat Isya’, Pak Lukman berdiri di depan rumahnya. Ia menikmati
malam yang bertaburan bintang. Ia berharap Allah memberi Rizqi yang lancar lewat pekerjaan barunya. Pak Lukman membuka warung kopi kecil-kecilan di samping rumahnya. Dan hasil dari warung itu cukup untuk biaya sekolah kedua anaknya, juga kebutuhan sehari-hari keluarga. 
Malam Jumat ini hanya ada Mas Rafi, Pak Sabar dan Pak Galih yang mampir di warungnya.
Bagi Pak Lukman, satu maupun dua orang yang mampir di warungnya tetap disyukuri sebagai rizki pemberian Allah. Ia tak pernah mengungkit-ungkit dengan amalannya, kalaupun sudah membaca usai shubuh berkali-kali tetap tidak membuat rizqinya lancar, ia tetap mensyukuri bahwa Allah belum memberi rizki banyak pada dirinya lantaran ia usaha buka warung.
Malam ini jam sepuluh, warungnya sudah ditutup. Karena esok hari akan menemui Kyai
yang oleh kiai Shodiq dianggap salah seorang sufi besar.
Pagi yang ditunggu telah tiba, Pak Lukman membaca surat al Waqiah dengan tartil di ruang
tamu. Setelah merampungkan amalannya, ia membuka warungnya hingga jam sepuluh siang
karena pukul sebelas nanti ia harus berangkat sholat Jumat di Masjid Baitut Taqwa. Berangkatnya ke masjid tepat pukul 11.00 WIB, ia dengan mengendarai sepeda motornya berangkat dengan baju putih dan kopyah hitam. Jumat itu yang menjadi Khatib adalah Kyai Abdus Salam, Kyai pemilik TPQ An Nur. Dalam isi khutbah itu benar-benar didengar oleh Pak Lukman, karena isi khutbah itu sebagian
menyinggung adanya wali mastur seperti apa yang telah dijelaskan oleh Kyai Shodiq tempo hari.
Selesai sholat Jumat, Pak Lukman langsung bergegas ke tempat yang dia tuju. Sesampai di
sana, Pak Lukman langsung menemuinya.
“Assalamualaikum, Kiai,” ucap Pak Lukman yang hatinya masih ragu dengan sosok Wakijo
yang kata kiai Shodiq seorang kiai.
“Assalamualaikum, Maaf menganggu. Saya Lukman, Kiai,” ucapan Pak Lukman kembali
diulangi. Tak ada jawaban sama sekali, hanya tawa menggelegar membelah angin pasar.
“Assalamualaikum Kyai, saya disuruh menyampaikan salam dari Kyai Shodiq. Dan juga
saya disuruh minta doa barokah dari Panjenengan,” Ucap pak Lukman.
“Shodiiq...., kenapa kau membocorkan identitasku yang aku tutupi selama sepuluh tahun.
Aku tidak ingin identitasku diketahui orang banyak, cukup Allah yang tahu.” Wakijo mendadak menangis sesenggukan.
Pak Lukman hanya berdiri mematung, melihat adegan yang belum sepenuhnya ia pahami itu.
Kyai Sa’dullah alias Wakijo sang penjaga pasar seakan terpukul dengan adanya orang yang mengetahui identitasnya. Dalam keterpakuannya Pak Lukman sempat berpikir, jangan-jangan Wakijo sang penjaga pasar memang seperti apa yang dikatakan oleh kiai Shodiq.
                                                                                                           Gresik, 2013


Tentang Penulis : Agus Ibrahim lahir 10 Desember 1990 di desa Sambungrejo, Rengel, Tuban Jawa Timur. Putra pertama dari pasangan H. Syuhada’ dan Hj. Siti Romadlonah. Ia menempuh pendidikan dasar di MI Mambaul Islam Losari Soko Tuban (lulus 2003), MTs Mambaus Sholihin Suci Gresik (lulus 2006), MAK Mambaus Sholihin (lulus 2009). Setamat MAK, ia masuk Fakultas Syari‘ah Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah di Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) Suci Manyar Gresik (Lulus 2013).


          Dalam organisasi ia pernah menjadi Sekretaris OSIS MA Mambaus Sholihin periode 2008-2009, anggota Departemen Bahasa Arab periode 2009- 2010, Sekretaris Pusat OSPMS Pondok Putra Mambaus Sholihin periode 2010-2011. Di bidang Jurnalistik ia pernah menjadi Redaktur dan Lay Outer Majalah AL-FIKRAH mulai 2007 sampai 2011. Ia juga pendiri dan pimpinan umum Koran Mambast Pos sejak 2010 hingga sekarang. Ia juga mengajar Fiqih di Madrasah Diniyah Putra Mambaus Sholihin sejak 2011- sekarang, staf pengajar kursus Bahasa Arab, dan guru Bidang Studi PPKn di MTs Mambaus Sholihin hingga saat ini. Ia menyukai dunia tulis menulis sejak kecil, dan buku ‘Lalat dari Jerman’ ini adalah karya perdananya. Penulis yang sedang menyelesaikan novel ini sekarang masih tinggal di Pon.Pes. Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik. Kritik dan saran bisa dikirim di nomor 085731313185.

0 komentar:

Posting Komentar