468x60 Ads

Menculik Qomar. Cerpen Kedelapan dalam Buku Kumpulan Cerpen Lalat dari Jerman










Menculik Qomar

Qomar sedang sibuk menyiapkan dekorasi acara Haflah Akhiris Sanah. Santri ini tak pernah luput mendapat surat mandat sebagai kordinator pembuatan Dekorasi dalam berbagai acara yang ada di pondok. Maka Qomar satu-satunya raja komputer yang paling ahli dan mumpuni di pondoknya.
Surat mandat tiba-tiba datang.
“Mar, ini dapat titipan surat dari kantor.” Mufid menyerahkan surat kepada Qomar.
Syukron,” ucap Qomar.
Qomar merasa tak perlu membuka surat itu. Ia pasti menjadi panitia bagian dekorasi. Hanya
saja ia perlu mengintip agenda dan waktu acara yang tertulis di surat itu. Dekorasi acara penyambutan menteri agama, pada tanggal 25 Pebruari mendatang. Selesai membaca isi
surat mandat itu Qomar langsung membuangnya. Kotak lemarinya sudah tak cukup untuk
menampung lembar undangan dari bermacam acara.
Qomar kembali menatap layar komputernya. Ia membuka aplikasi Photoshop untuk mempoles background dalam sebuah bingkai dekorasi. Kelihaiannya dalam menggerakkan Mouse dipadu dengan imajinasi yang mengalir, membuat setiap karya designnya nikmat dipandang. Hanya beberapa menit sebuah karya lahir. Semua penggemar Designnya sudah tak sabar menunggu. Termasuk Udin, Nizar, Shohib dan Mubarok. Mereka semua penggemar design bikinan Qomar.
***
SELAIN ahli komputer, Qomar juga santri yang cukup ringan tangan. Ia juga cukup
berpengalaman di dalam organisasi. Sudah banyak organisasi yang pernah dia ikuti. Mulai
ketua OSIS, ketua Ikatan Santri daerah, ketua panitia seminar, ketua BEM kampus, hingga ketua panitia konsumsi. Ia juga tergolong paling rajin dibanding teman-teman seangkatannya.
“Mar, bagaimana kalau buletin edisi ini kamu yang lay out?” tanya Pimred buletin Hadzihi Fitnah suatu ketika
“Masak tidak ada orang lain, jobku banyak.” ucap Qomar berusaha menolak.
 “Di kampus hanya kamu yang dikenal sebagai mahasiswa ahli lay out. Salah kamu sendiri sampai sekarang belum mengkader penerus dalam bidang Lay Out.” Akhirnya Qomar pasrah. Ia menyisihkan waktunya untuk jadi Lay Outer buletin hadzihi fitnah edisi Februari-Maret.
“Ahghh...Salahku sendiri. Kenapa sampai sekarang aku belum menemukan pengganti yang bisa meneruskan keahlianku. Kalau begini terus aku yang remuk. Masak di pondok aku terus yang paling dihandalkan. Kemudian di kampus juga diharapkan, malah di luar pondok juga ditunggu-tunggu.” “Kalau begini terus aku bisa-bisa tua di pondok. Karena kalau mau keluar atau boyong banyak yang menghalang-halangi. Memang mereka yang
menghalangi benar kalau sosokku dibutuhkan. Aku juga harus sepakat dengan mereka, karena aku belum bisa membalas jasa pondokku. Kalau aku tidak masuk pondok ini, mungkin bakatku dalam hal Lay Out, Organisasi, pendidikan agama, entrepreneur dan lain-lain tidak bisa aku kembangkan. Aku belum bisa membalas kebaikan pondok ini. Aku sungguh berhutang budi dengan pondok tercintaku. Dan targetku tiga bulan lagi, harus mengkader anak-anak sampai mahir dalam bidang yang aku kuasai. Dalam hati Qomar sadar, ia termasuk orang yang sering dibutuhkan. Dia haruslah mengadakan regenerasi  untuk bidang-bidang yang dia kuasai.
Di depan layar komputer, ia kerap memanggil anak yang dia anggap bisa. Dari tujuh belas anak yang telah dia panggil, semuanya lemah dalam permainan setting imajinasi. Namun dirinya tidak putus asa, terus mencari penggantinya. Kalau sudah menemukan penggantinya maka ia akan pamit dari pondoknya. Ia ingin memperdalam sastra.
***
BULETIN Hadzihi Fitnah, dan Pimred bangga sebab terbitnya jauh lebih cepat daripada dealine yang ditentukan. Buletin itu akan didistribusikan ke toko buku, kampus-kampus di Jawa Timur dan dititipkan di kios-kios dekat terminal. Pak Roni, bos perusahaan Design dan Lay Out Indomedia sempat melihat buletin. Dia yang tinggal di Surabaya merasa tertarik setelah melihat hasil lay out yang cukup bagus. Pak Roni lalu menghubungi alamat redaksi Buletin.
“Halo, apa benar ini redaksi Buletin Hadzihi Fitnah?. Saya Roni, pemilik percetakan sekaligus pemilik jasa design komputer di kota Surabaya, apa bisa bicara dengan crew yang ditugaskan sebagai Lay outer. Seperti yang saya baca tadi, namanya Qomar. Bisa dipanggilkan...?” Pak Roni sangat mengagumi hasil design Qomar, rencanannya Qomar akan direkrut sebagai Lay Outer di Indomedia.
“Halo, Pak ini saya sendiri, Qomar?”
“Assalamualaikum, apa benar ini Lay outer buletin Hadzihi Fitnah?” Tanya Pak Roni
“Ya benar, ini siapa dan ada perlu apa?”
“Kenalkan saya Pak Roni dari Surabaya. Saya berharap saudara bisa datang menemui saya di Surabaya”
“Memangnya ada apa, Pak?” Qomar penasaran.
“Mau bicara empat mata. Kalau ada waktu bisa datang ke sini, saya tunggu di Royal. Nanti masalah uang transportasi dan uang makan saya yang nanggung, dan kami sediakan uang jalan.
“Gimana?” Iming-iming Pak Roni.
“Sebentar pak, tak pikirkan dulu.” Qomar berfikir sejenak.
“Ya, Insya Allah besok hari selasa saya ke sana, mumpung lagi free.”
***
DENGAN berbaju hitam, Qomar menunggu pak Roni di dekat Royal Plaza. Berkali ia menatap jam di tangannya, tapi pak Roni belum muncul juga. Setengah jam kemudian Pak Roni baru datang. Ia mengendarai sebuah mobil Xenia. Kendaraan itu pun berhenti di samping Qomar yang sedari tadi menunggu.
“Ini Qomar ya, maaf telat.”
“Mari silahkan masuk.” Pak Roni mempersilahkan Qomar masuk mobil.
Mobil hitam itu menuju sebuah Rumah makan Surabaya. Qomar santri yang biasa makan tahu tempe diajak pak Roni ke Restoran Surabaya. Dengan keperluan membahas lebih lanjut planning Impromedia untuk go Nasional.
“Mar, silahkan dibuka daftar menunya.” Qomar dengan malu membuka daftar masakan dengan harga selangit, harga yang tak akan ditemukan di kantin pondoknya.
Qomar tampak kebingunan memilih menu dengan harga terjangkau. Ia memilih harga paling murah; Rp 150.000 satu porsi.
“Minumnya apa?” Pak Roni menyambut Qomar dengan antusias.
“Es Teh atau Aqua gelas aja Pak.” Pak Roni tersenyum. “Pesananmu gak ada,
Mar. Kalau ini bagaimana?” Ucap Pak Roni sambil menunjuk Es Cappucinno.
“Terserah bapak saja.” Jawab Qomar mengembang senyum di bibirnya. Seusai keduanya menyantap makanan, Pak Roni berkata.
“Mar, bapak kemarin sempat membolak-balik buletin hasil lay outmu. Bapak tertarik, maksud bapak mengundangmu ke sini tak lain untuk saya ajak kerjasama. Karena di ruang kerja kami butuh Designer handal sepertimu. Saya tahu kalau kamu anak pondok, tapi hasil designmu tak kalah dengan designer luar. Sunggah luar biasa...”
“Tapi Pak.....” Qomar agak keberatan karena masih punya ikatan dengan pondok. Dia masih berstatus santri.
“Kamu saya gaji empat juta lima ratus ribu rupiah perbulan.” Hati Qomar tersentak saat mendengar jumlah uang sebanyak itu. Selama ini ia bekerja tanpa bayaran. Ia berfikir panjang, kalau dirinya tak seberapa tergantung dengan materi. Hati Qomar telah disegel gurunya untuk ikhlas mengabdi di pondok. Tanpa minta bayaran atau gaji. Karena semua jerih payah yang dikerjakan dengan tulus untuk pondoknya akan berbuah kemanfaatan di kemudian hari. “Nok Pondok Niat khidmah, muleh nok omah oleh hikmah.” Kata gurunya kala itu.
“Bagaimana?” tanya Pak Roni, tak sabar menunggu jawaban.
“Ya udah, saya tambahi gratis biaya kuliah di ITS, gratis makan dan free internet sepuasnya.” Keringat Qomar membanjir, mendengar penawaran Pak Roni.
“Ya sudah, Pak. Saya terima tawarannya.” Jawab Qomar dengan ragu.
***
SEISI pondok ramai. Santri bernama Qomar sedang menjadi buah bibir. Ia dibicarakan, baik di pondok maupun di kampusnya. Sosok santri yang tak kenal lelah dalam berkhidmah itu seakan lenyap, tak tampak batang hidungnya. Padahal panitia berbagai momen acara sedang membutuhkan seorang Designer dan Lay Outer untuk membuat Dekorasi panggung haflah. Sudah beberapa hari Qomar tak tampak batang hidungnya.
Ini semua adalah kesalahan besar. Mengapa tak ada kaderisasi untuk bisa mencetak “Seribu sosok Qomar”. Para santri merasa sangat kehilangan dengan hilangnya Qomar, salah satu santri yang cukup penting di pondok. Malah banyak santri yang berasumsi dan berkata, “Hah, Qomar diculik !!”.
                                                                                                        Suci - Gresik, 2013
 


Tentang Penulis : Agus Ibrahim lahir 10 Desember 1990 di desa Sambungrejo, Rengel, Tuban Jawa Timur. Putra pertama dari pasangan H. Syuhada’ dan Hj. Siti Romadlonah. Ia menempuh pendidikan dasar di MI Mambaul Islam Losari Soko Tuban (lulus 2003), MTs Mambaus Sholihin Suci Gresik (lulus 2006), MAK Mambaus Sholihin (lulus 2009). Setamat MAK, ia masuk Fakultas Syari‘ah Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah di Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) Suci Manyar Gresik (Lulus 2013).

          Dalam organisasi ia pernah menjadi Sekretaris OSIS MA Mambaus Sholihin periode 2008-2009, anggota Departemen Bahasa Arab periode 2009- 2010, Sekretaris Pusat OSPMS Pondok Putra Mambaus Sholihin periode 2010-2011. Di bidang Jurnalistik ia pernah menjadi Redaktur dan Lay Outer Majalah AL-FIKRAH mulai 2007 sampai 2011. Ia juga pendiri dan pimpinan umum Koran Mambast Pos sejak 2010 hingga sekarang. Ia juga mengajar Fiqih di Madrasah Diniyah Putra Mambaus Sholihin sejak 2011- sekarang, staf pengajar kursus Bahasa Arab, dan guru Bidang Studi PPKn di MTs Mambaus Sholihin hingga saat ini. Ia menyukai dunia tulis menulis sejak kecil, dan buku ‘Lalat dari Jerman’ ini adalah karya perdananya. Penulis yang sedang menyelesaikan novel ini sekarang masih tinggal di Pon.Pes. Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik. Kritik dan saran bisa dikirim di nomor 085731313185.


0 komentar:

Posting Komentar